Selasa, 19 Februari 2019

Kesehatan Reproduksi Pasutri Terancam, Ada Usulan Usia Nikah Diubah

11 Februari 2019, 20:16:06 WIB

JawaPos.com - Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) mendorong pemerintah untuk meningkatkan batas usia perkawinan. Seperti yang diketahui, saat ini perempuan berusia 16 tahun dan laki-laki 19 tahun sudah diperkenankan menikah.

Ketua YKP Herna Lestari mengatakan, di balik hal tersebut, kesehatan reproduksi kedua anak terancam. Terutama pada perempuan, secara fisik maupun mental.

Kesehatan reproduksi, berdasarkan World Health Organization (WHO) diartikan sebagai kesejahteraan fisik, sosial, dan mental terkait dengan organ, fungsi, dan proses reproduksi.

Kasus perkawinan anak yang marak terjadi di Indonesia, dinilai cukup mengkhawatirkan lantaran akan memicu angka kematian ibu (AKI). Walaupun sebenarnya, tanda kematangan reproduksi perempuan ditandai dengan menstruasi.

“Perempuan yang sudah menstruasi sebenarnya secara reproduksi sudah berfungsi, jika berhubungan seks sudah bisa hamil. Tapi sebetulnya belum siap,” ujar Herna saat menggelar media briefing di kawasan Jakarta Selatan, Senin (11/2).

Menurutnya, ketidaksiapan seorang anak perempuan misalnya ketika memasuki masa kehamilan. Sementara, tubuhnya sendiri masih berkembang dan membutuhkan banyak nutrisi.

Dalam kasus seperti itu, baik ibu maupun janinnya akan sulit dipertahankan.

“Ibunya masih berkembang, masih butuh energi, masih butuh makanan-makanan yang bergizi. Kalau dia hamil, si bayi juga butuh energi yang cukup, (sehingga) dia rebutan sama ibunya. Akibatnya jika bayi yang dikandungnya kalah bisa meninggal. Kalau ibunya yang kalah, meninggal, angka kematian ibu,” paparnya.

Selain itu, dari segi mentalnya sendiri, anak perempuan dan laki-laki masih sangat labil. Bahkan, mereka belum bisa berpikir secara dewasa.

“Mudah sekali galau, mudah dipengaruhi, marah sedikit kata-kata cerai itu diucapkan. Banyak terjadi percekcokan,” kata dia.

Herna menuturkan bahwa hasil penelitian menyebut perkawinan usia anak dapat memicu kekerasan terhadap perempuan, berupa fisik, seksual, psikologis, dan sosial di masa depan.

Oleh karena itu, YKP dalam hal ini sudah berupaya untuk meningkatkan batas usia perkawinan namun belum membuahkan hasil.

“Waktu kita mengajukan ke MK untuk peningkatan usia perkawinan anak pertama kali itu gagal. Karena katanya dari kelompok agama ini nggak setuju. Padahal, banyak kasus perceraian perkawinan anak apalagi yang sama-sama anak,” pungkasnya.

Editor : Imam Solehudin

Reporter : Yesika Dinta

Kesehatan Reproduksi Pasutri Terancam, Ada Usulan Usia Nikah Diubah