Senin, 18 Februari 2019
Tak Tahu Berangkat ke Jordania Secara Ilegal

Pengakuan Keluarga Diah, TKW yang Hanya Boleh Mandi Sebulan Sekali

12 Februari 2019, 16:00:13 WIB

JawaPos.com- Keluarga besar Diah Anggraeni (sebelumnya tertulis inisial DA), Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kota Malang yang bekerja di Amman, Jordania, Timur Tengah mengaku tak tahu bahwa status Diah ilegal. Bahkan setelah 12 tahun tidak ada kabar, mereka baru mengetahui Diah menjadi pekerja rumah tangga (PRT) di sana.

Seperti diberitakan JawaPos.com sebelumnya, salah satu TKW asal Kota Malang yang bekerja di Amman, Jordania, Timur Tengah mendapat perlakuan tidak manusiawi dari majikannya. Selama 12 tahun Diah tidak mendapatkan gaji, bahkan dilarang untuk mandi. Majikannya hanya mengizinkan Diah mandi sebulan sekali. Setelah diselidiki, Diah berangkat ke Jordania sebagai TKW nonprosedural alias ilegal.

Ibunda Diah, Prapti Utami, 53, menceritakan, dirinya sama sekali tidak tahu putri sulungnya tersebut mengadu nasib ke luar negeri. Sepengetahuannya, Diah hanya berujar bahwa dirinya ingin bekerja.

"Pokoknya pamit kerja (mau) mengubah nasib. Nggak tau, moro-moro (tiba-tiba) berangkat," ujarnya saat ditemui JawaPos.com di kediamannya, Jalan R E Martadinata gg 6 RT 15 RW 02, Kelurahan Kota Lama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Selasa (12/2).

Saat itu kondisi ekonomi keluarga Diah memang sulit. Apalagi saat itu Prapti bersama sembilan anaknya harus berjuang menjalani hidup tanpa kepala keluarga. 40 hari sebelum Diah berangkat ke Jordania, ayahnya meninggal dunia karena sakit. Selang beberapa hari, giliran suami Diah yang meninggal dunia juga karena sakit.

Lantaran latar belakang itu, sebagai anak pertama, Diah memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. "Dia ninggal (berangkat mencari kerja) karena keadaan ekonomi. Memikirkan adiknya. Setelah 40 hari bapaknya meninggal, dia berangkat," imbuh Prapti.

Diah yang hanya mengenyam bangku SD kemudian berangkat mencari kerja 2006 lalu. Diduga Diah langsung berangkat ke Jordania. Setelah berangkat, pihak keluarga tidak pernah berkomunikasi atau mendengar kabar dari Diah. Bahkan Prapti juga tidak mengetahui ke mana dan bersama siapa Diah pergi.

"Sejak berangkat tidak ada kontak," kenangnya.

Menurut penuturan Prapti, Diah juga meninggalkan seorang anak perempuan yang kini sudah berusia 15 tahun. Selama kepergian Diah, Prapti sendiri sering sakit-sakitan. Sebagai seorang ibu, dia tak henti-hentinya memikirkan di mana keberadaan Diah.

"Saya nggak ngerti (keberadaan Diah). Saya sering sakit," terang wanita berkerudung itu.

Sementara itu, salah satu adik Diah, Windi Asriati, 27 menyampaikan hal yang sama. Bahkan, dia tidak tahu sama sekali terkait prosedur keberangkatan Diah.

"Saya waktu itu masih kelas 2 SMP. Tidak tahu sama sekali. Nggak tahu prosedur, proses, sama siapa, nggak tahu," ujarnya.

Windi menambahkan, pihak keluarga baru mengetahui kabar Diah setelah mendapat kabar dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

"Desember 2018 dikabari KBRI. Saya dapat kabar dari kelurahan," terang anak keenam dari sembilan bersaudara itu.

Secara prosedur, informasi tersebut disampaikan oleh KBRI kepada Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (P4TKI) Regional Malang. Kemudian disampaikan ke Kelurahan, sebelum akhirnya diinformasikan ke pihak keluarga.

Mendengar kabar itu, pihak keluarga mengaku senang. Apalagi setelah menanti selama 12 tahun, setidaknya ada kabar jika Diah bakal segera pulang ke rumah.

"Ya senang. Akhirnya bisa pulang ke rumah," tutur Windi.

Editor : Dida Tenola

Reporter : Fiska Tanjung

Pengakuan Keluarga Diah, TKW yang Hanya Boleh Mandi Sebulan Sekali