Senin, 18 Februari 2019

Melirik Bisnis Kopi Lereng Merapi yang Menjanjikan

Sempat Ekspor ke Jerman
12 Februari 2019, 14:55:56 WIB

JawaPos.com - Terpuruk sejak terkena dampak erupsi Gunung Merapi akhir 2010 silam, produksi tanaman kopi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) hingga kini belum pulih. Salah satu faktornya adalah para petani yang enggan memaksimalkan lahan mereka kembali.

Padahal permintaan kopi merapi terus tumbuh dan prospek pasarnya kian menjanjikan, terbukti dengan adanya permintaan ekspor. Ketua Koperasi Usaha Bersama (KUB) Kebun Makmur, Desa Petung, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Sumijo mengatakan, saat ini jumlah tanaman yang pulih usai terdampak erupsi 2010 baru sekitar seperempat saja. "Banyak yang di Cangkringan belum pulih," katanya, saat dihubungi Selasa (12/2).

Kendalanya karena para petani setelah erupsi tinggal di tempat relokasi. Yakni di lokasi Hunian Tetap (Huntap) dan rumah mereka sebelumnya pun sudah jarang ditempati. "Masyarakat yang tinggal di relokasi jadi harus ekstra kalau mau ke kebun untuk memelihara kopi," katanya.

Akibatnya jumlah produksi pun cukup terbatas. Hingga 2018, per tahun hanya sebanyak 5 ton saja untuk kopi jenis Arabika, dan 20 ton jenis Robusta.

Dari jumlah itu, menurutnya masih sangat timpang dengan banyaknya permintaan. Kopi-kopi hasil tanaman petani, biasanya hanya dijualnya untuk memenuhi pasar di Jogja dan daerah-daerah sekitarnya. "Hingga sekarang, kami fokus memenuhi permintaan lokal dan nasional saja," ucapnya.

Padahal, menurutnya permintaan ekspor dari beberapa negara saat ini sudah cukup banyak. Bahkan eksisnya kopi ini sempat menjamah pasar di Jerman pada 2003 silam. "Dulu sempat ekspor ke Jerman. Tapi sampai sekarang berhenti karena kendala jumlah," katanya.

Ia mengaku, kopi asli dari Sleman ini cukup mempunyai keistimewaan di segi cita rasanya. Yakni karena tanamannya di lereng gunung aktif yang sering terkena dampak abu vulkanik dan perawatannya pun dengan cara organik.

Edi Sri Harmanto, Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan, Dinas Pertanian, Pangan, dan Peternakan (DP3) Kabupaten Sleman, menambahkan, tanaman kopi merupakan salah satu yang terdampak erupsi 2010. "Kopi dan salak yang paling banyak lahannya terkena dampak erupsi," katanya.

Seusai erupsi, para petani setempat juga telah berupaya untuk melakukan pemulihan. Terutama jenis salak, yang jumlah produksinya semakin meningkat.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : Ridho Hidayat

Melirik Bisnis Kopi Lereng Merapi yang Menjanjikan