Jawa Pos Logo

HORLIVKA – Kontak senjata antara tentara Ukraina dan pemberontak Pro-Rusia bakal terjadi lagi. Dengan demikian, korban akan kembali berjatuhan. Sebab, pemberontak Pro-Rusia tidak mundur padahal sudah digertak dan diberi deadline oleh tentara Ukraina. Mereka malah bersiap perang dengan lebih banyak menguasai gedung di kota-kota yang mayoritas penduduknya berbahasa Rusia.

Saat ini ada sembilan kota di Ukraina Timur yang telah dikuasai pemberontak bersenjata. Selain itu, mereka telah menguasai kantor polisi di Horlivka. Mereka tidak sulit mengambil alih berbagai gedung pemerintah. Sebab, polisi setempat dan mayoritas penduduk di wilayah yang dikuasai pemberontak juga mendukung aksi militan Pro-Rusia tersebut. Mereka ingin bergabung dengan Moskow atau mendirikan negara sendiri yang merdeka. ’’Tujuan kami adalah melawan pemerintah di Kiev,’’ ujar Anatoly Zhurov, salah seorang penduduk Horlivka yang mendukung pemberontak Pro-Rusia.

Sebelumnya, para pemberontak itu membuat tameng-tameng pertahanan jika sewaktu-waktu diserang kembali tentara Ukraina. Tameng tersebut berupa tumpukan ban-ban bekas yang ditata sedemikian rupa. Bahkan, di Slovyansk banyak pos penjaga milik para pemberontak. Kota itu sudah dikuasai pemberontak sejak Sabtu (12/4). Bendera Rusia dikibarkan di pintu masuk kota yang berjarak 160 kilometer dari Rusia tersebut. Meski dikuasai pemberontak, pada siang hari kota itu tampak tenang seperti hari biasa.
Presiden Sementara Ukraina Oleksandr Turchynov kemarin kembali menyatakan akan meluncurkan operasi antiteroris. Dia tidak menjelaskan secara detail perbedaan operasi yang baru itu dengan operasi di Slavyansk pada Minggu (13/4). Operasi terakhir tersebut tidak menghasilkan apa pun, kecuali tewasnya dua korban dari dua pihak. Saat ini kantor polisi Slavyansk masih dikuasai pemberontak.
’’Rusia memiliki rencana-rencana brutal. Mereka tidak hanya membuat rusuh di Donetsk , tetapi juga di seluruh Ukraina Selatan dan Timur, dari Kharkiv hingga Odessa,’’ ujarnya di depan parlemen.
Sementara itu, pertemuan antara Rusia, Ukraina, Amerika Serikat, dan Uni Eropa di Jenewa pada Kamis (17/4) terancam gagal. Kemarin Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov mengancam, Rusia tidak akan ikut dalam mediasi tersebut jika Ukraina terus menggunakan kekerasan untuk menghadapi pemberontak Pro-Rusia.
’’Kamu tidak bisa mengirimkan tanker-tanker, sedangkan pada saat yang sama mengajak berbicara,’’ ujarnya.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin agar menggunakan kekuatannya untuk meredam ketegangan di Ukraina. Di sisi lain, Putin mendesak Obama agar menggunakan armadanya untuk mencegah perang berdarah di Ukraina. Putin juga menolak dianggap terlibat dalam kekacauan di negara tetangganya tersebut. Pembicaraan dua pimpinan negara itu dilakukan melalui telepon. (AP/AFP/BBC/sha/c20/tia)


BERITA LAINNYA
Tulis Komentar